PEMILIHAN LOKASI BISNIS RETAIL dan AREA PERDAGANGAN

Pemilihan lokasi dalam sebuah bisnis itu sangat penting. Dalam buku Retail Management A strategic Approach thirteenth Edition di sebutkan pepatah “lokasi,lokasi,lokasi” yang artinya lokasi merupakan faktor utama yang mengarah pada keberhasilan atau kegagalan. 

Contohnya : 

Lokasi yang bagus (hoki) misalnya kalian memiliki toko buah di dekat area rumah sakit, walaupun kalian tanpa melakukan promosi yang rutin itu toko buah kalian bakal tetap laris, kenapa? Karena lokasinya strategis , kebanyakan orang yang mau berkunjung ke rumah sakit atau menjenguk pasti mencari buahb tangan jadi membuka toko buah di area dekat rumah sakit merupakan pilihan yang tepat. 

Lokasi yang salah misalnya kalian memiliki toko accessories yang letaknya di sebrang mall yang dimana mall tersebut terdapat tenant yang menjual berbagai macam accessories juga yang lebih lengkap, meskipun toko kalian itu barangnya lebih murah tapi hal tersebut gabisa ngalahin pilihan barang yang ada di mall tersebut.

Trading Area / Area Perdagangan 

Area perdagangan atau trading area secara singkat merujuk pada wilayah geografis tempat suatu bisnis, khususnya toko ritel, memperoleh sebagian besar pelanggan atau penjualannya. 

pembahasan ini berpusat pada konsep Area Perdagangan (Trading Area) dan bagaimana area tersebut saling berinteraksi, sebuah konsep yang sering dimodelkan dalam studi lokasi ritel, khususnya menggunakan prinsip Model Gravitasi Ritel. 


Pada gambar tersebut : 
  • Lingkaran A mewakili area perdagangan untuk Toko 1 
  • Lingkaran B mewakili area perdagangan untuk Toko 2 

Gambar itu mengilustrasikan situasi di mana dua toko, Toko 1 (Area A) dan Toko 2 (Area B), yang kemungkinan besar adalah pesaing, memiliki Area Perdagangan yang tumpang tindih (Overlap Trading Area). 

Panah-panah yang mengarah ke atas, bawah, kanan, dan kiri pada diagram (seperti sistem koordinat atau sumbu). : 

  • sumbu horizontal (Kiri-Kanan): menunjukkan jarak dari toko ke arah timur dan barat. 
  • sumbu vertikal (Atas-Bawah): menunjukkan jarak dari toko ke arah utara dan selatan. 
    1. Zona Hijau Tua (Angka 1): Ini adalah zona terdekat. Pelanggan di sini pasti memilih Toko A (atau Toko B) karena jaraknya yang sangat pendek, sehingga persaingan dari toko lain cenderung rendah.
    2. Zona Tumpang Tindih (Overlap): Area persaingan paling sengit terjadi di mana lingkaran 2 mil dari kedua toko bertemu. Di sinilah jarak ke Toko A hampir sama dengan jarak ke Toko B. Konsumen di area ini akan memutuskan berdasarkan faktor lain selain jarak (seperti harga, pilihan produk, atau promosi).
    3. Zona Unik (Di luar Overlap): Ini adalah area 2 mil yang tidak tumpang tindih. Meskipun lebih jauh, pelanggan di zona ini masih loyal karena Toko A adalah pilihan ritel terdekat yang paling layak bagi mereka.
singkatnya: Panah menentukan arah (Utara, Selatan, Timur, Barat) dan angka 1 & 2 menunjukkan seberapa jauh jangkauan pelanggan toko dari pusatnya. 2 Mil sering dianggap sebagai batas efisien jangkauan pasar untuk jenis ritel tertentu.

Ukuran dan Bentuk Area Perdagangan 
setiap area perdagangan memiliki 3 bagian: 
  1. area perdagangan utama (area paling dekat dengan toko)
  2. area perdagangan sekunder (area yang terletak diluar area utama) 
  3. area perdagangan pinggiran (area yang terletak di paling luar dari daerah toko) 

Gambar diatas mengilustrasikan konsep penting dalam manajemen ritel: Segmentasi Area Perdagangan (Trading Area Segmentation), yaitu pembagian wilayah geografis yang dilayani oleh suatu toko menjadi zona-zona berdasarkan intensitas atau kepadatan pelanggan.
  • Area Perdagangan Utama (Primary)Zona terdekat dengan lokasi ritel.Mencakup 50 hingga 80 persen dari total pelanggan toko. Kepadatan pelanggan dan penjualan per kapita tertinggi. Jarak tempuh (travel distance) dan waktu tempuh (travel time) terpendek. Zona ini sangat sensitif terhadap perubahan taktis toko.
  • Area Perdagangan Sekunder (Secondary)Zona yang mengelilingi Area Utama.Mencakup sekitar 20 hingga 30 persen dari total pelanggan. Pelanggan di zona ini bersedia menempuh jarak yang lebih jauh; kepadatan pelanggan mulai menurun dibandingkan Area Utama. 
  • Area Perdagangan Pinggiran (Fringe)Zona terluar dan terluas dari Area Perdagangan.Mencakup pelanggan sisanya, namun jumlahnya paling tidak terorganisir dan paling jarang. Pelanggan di sini berpotensi juga berbelanja di toko pesaing yang berlokasi lebih dekat dengan mereka. Seringkali mencakup area hingga 10 mil atau lebih.

  Pusat Penggunaan Campuran

Gambar 9-5 menyajikan tata letak spasial dari suatu Pusat Ritel Terencana (Planned Shopping Center) atau yang sering disebut Pusat Komersial Terpadu. Model ini menunjukkan bagaimana berbagai fungsi dan jenis ritel diorganisasi secara fisik dalam satu lokasi untuk memaksimalkan sinergi dan efisiensi.

fungsi utama dari model perencanaan pada gambar ini:
  • Pusat Penggunaan Campuran (Mixed-Use Development): Model ini mengintegrasikan fungsi ritel, layanan (hotel/restoran), dan hunian (apartemen). Tujuannya adalah menciptakan lingkungan yang hidup 24 jam (24-hour activity) dan memaksimalkan utilitas lahan.
  • Sinergi dan Cross-Shopping: Penempatan unit-unit ritel dan layanan yang berdekatan dirancang untuk menciptakan sinergi antar-bisnis. Cross-shopping terjadi ketika pelanggan yang datang untuk satu tujuan (misalnya, membeli pakaian di Toko A) juga tergoda untuk mengunjungi toko atau layanan lain di sekitar (misalnya, restoran, bioskop). Ini meningkatkan total waktu tinggal pelanggan (dwell time) dan potensi pengeluaran.
  •  Manajemen Lalu Lintas dan Akses: Penataan yang terencana memungkinkan manajemen fasilitas dan akses yang terstruktur. Jalur yang baik meminimalkan hambatan lalu lintas dan memudahkan pejalan kaki.
  • Daya Tarik Kolektif (Clustering Effect): Karena berbagai jenis toko dan layanan berkumpul di satu tempat, pusat ini menciptakan daya tarik kolektif yang lebih besar daripada daya tarik toko tunggal. Pelanggan bersedia menempuh jarak lebih jauh untuk mengunjungi pusat komersial yang menjanjikan variasi, efisiensi, dan pengalaman belanja yang komprehensif.

Faktor Utama yang Perlu di Pertimbangkan dalam Mengevaluasi Area Perdagangan Ritel 

Tabel ini merupakan matriks penilaian multi-faktor yang memastikan bahwa keputusan lokasi ritel didasarkan pada analisis komprehensif yang melampaui jarak dan populasi. Dengan mempertimbangkan semua kategori ini, peritel dapat meminimalkan risiko investasi, memaksimalkan efisiensi operasional, dan meningkatkan probabilitas untuk mencapai keunggulan kompetitif berkelanjutan di Area Perdagangan yang dipilih.

 Faktor Utama Yang Perlu Dipertimbangkan Dalam Evaluasi Area Perdagangan Retail : 
  1. Population Size and Characteristics (Ukuran dan karakteristik populasi) Population Size and Characteristics adalah faktor yang merujuk pada jumlah penduduk di suatu area dan sifat-sifat utama, serta melihat apakah karakteristik penduduk sudah sesuai dengan target pasar yang diinginkan toko. Mencakup ukuran total populasi, kepadatan, distribusi usia, tingkat pendidikan rata-rata, persentase pemilik rumah, pendapatan dapat digunakan, distribusi pekerjaan, dan tren yang mempengaruhi potensi pasar di area tersebut.
  2. Availability of Labor (Ketersediaan tenaga kerja) Availability of Labor adalah ketersediaan tenaga kerja di area sekitar toko atau bisnis ritel. Menyangkut ketersediaan tenaga kerja mulai dari manajemen, trainee manajemen, hingga tenaga administrasi yang diperlukan untuk operasional toko.
  3. Closeness to Sources of Supply (Kedekatan dengan sumber pasokan). seberapa dekat lokasi toko atau bisnis ritel dengan sumber pasokan barang, seperti produsen, grosir, atau distributor, Semakin dekat toko dengan pemasok, biasanya biaya dan waktu pengiriman dapat lebih efisien, sehingga stok produk lebih mudah terjaga dan dapat memenuhi permintaan konsumen secara optimal. Meliputi biaya pengiriman, ketepatan waktu pasokan, jumlah produsen dan grosir, serta ketersediaan dan keandalan lini produk yang akan dijual.
  4. Promotion Facilities (Fasilitas promosi) fasilitas dan sarana yang digunakan untuk melakukan promosi produk atau layanan di area perdagangan ritel, Faktor ini mempertimbangkan biaya promosi dan efisiensi pemanfaatan media untuk mencapai target pasar sekaligus mengurangi pemborosan dalam pengeluaran promosi. Meliputi ketersediaan dan frekuensi media promosi, biaya yang dikeluarkan, dan kemungkinan adanya pemborosan dalam promosi.
  5. Economic Base (Basis ekonomi) Economic Base adalah fondasi ekonomi suatu wilayah yang terdiri dari industri dan bisnis utama yang menghasilkan pendapatan dari luar wilayah tersebut. Konsep economic base membantu memprediksi pertumbuhan ekonomi dengan melihat seberapa besar sektor dasar (basic sector) dalam suatu daerah. Meliputi industri utama yang dominan, diversifikasi ekonomi di daerah tersebut, proyeksi pertumbuhan, stabilitas ekonomi, serta ketersediaan kredit dan fasilitas keuangan.
  6. Competitive Situation (Situasi persaingan) Competitive Situation adalah kondisi persaingan bisnis di suatu wilayah atau pasar ritel. penting untuk menentukan strategi agar bisnis bisa bersaing efektif, seperti dengan menawarkan produk lebih baik, harga kompetitif, pelayanan unggul, atau diferensiasi yang membuat bisnis lebih menarik dan unggul dari pesaing lain. Meliputi jumlah dan ukuran pesaing yang sudah ada, kekuatan dan kelemahan pesaing, pandangan jangka pendek dan panjang, serta tingkat kejenuhan pasar.
  7. Availability of Store Locations (Ketersediaan lokasi toko) Availability of Store Locations adalah ketersediaan lokasi fisik yang bisa digunakan untuk membuka toko ritel. Lokasi yang strategis dan mudah dijangkau sangat penting untuk menarik pelanggan dan mendukung kelancaran operasi toko. Berhubungan dengan jumlah dan jenis lokasi toko yang tersedia, akses transportasi, peluang kepemilikan atau sewa, serta pembatasan zonasi dan biaya terkait. 
  8. Regulations (Peraturan) Regulations adalah peraturan atau aturan yang dikeluarkan oleh pemerintah atau otoritas setempat yang mengatur kegiatan bisnis ritel. bertujuan memastikan bisnis berjalan sesuai hukum, menjaga persaingan usaha yang sehat, serta melindungi konsumen dan pelaku usaha kecil agar tidak dirugikan oleh praktik monopoli atau persaingan tidak sehat Mencakup pajak, perizinan, pengoperasian, upah minimum, dan pembatasan zonasi yang dapat memengaruhi operasional toko.

Analisis Area Perdagangan Ritel 


Gambar yang kamu kirim berjudul “Gambar 9–7: Menganalisis Area Perdagangan Ritel.” Secara sederhana, gambar ini menjelaskan langkah-langkah atau alur proses dalam menganalisis area perdagangan ritel, yaitu cara untuk menentukan wilayah yang paling cocok dan menguntungkan untuk membuka atau mengembangkan bisnis ritel (toko, usaha dagang, dan sejenisnya).
  • Sumber Data Awal Bagian paling atas menunjukkan dari mana data awal dikumpulkan. Contohnya: Analisis pengalaman dan pengamatan lapangan, Analisis kredit, plat nomor, kode pos, dan tren pembelian dan Survei langsung ke konsumen Tujuannya untuk memahami siapa pelanggan, di mana mereka tinggal, dan seberapa sering mereka berbelanja.
  • Isi dari Data Awal Data yang terkumpul tadi digunakan untuk mengetahui: Frekuensi belanja pelanggan,Ukuran rata-rata pembelian,Konsentrasi pelanggan berdasarkan wilayah geografis Dari sini, perusahaan bisa tahu daerah mana yang paling potensial untuk dijadikan target pasar.
  • Penggambaran Area Perdagangan Wilayah pasar biasanya dibagi menjadi tiga kategori: Primer: Wilayah inti, tempat pelanggan utama berasal. Sekunder: Wilayah pendukung yang juga punya potensi pembeli. Pinggir: Area luar dengan pelanggan yang lebih sedikit. Pembagian ini membantu menentukan seberapa luas jangkauan pasar bisnis ritel.
  • Sumber Data untuk Karakteristik Penduduk Data ini diambil dari berbagai lembaga seperti: Biro sensus, survei daya beli, penerbit, agen data, atau perangkat lunak GIS. Tujuannya untuk mengetahui kondisi sosial ekonomi masyarakat di area tersebut.
  • Karakteristik Penduduk Informasi yang dikumpulkan meliputi: Ukuran total penduduk, Distribusi usia, Tingkat pendidikan rata-rata, Persentase kepemilikan rumah, Pendapatan rata-rata dan tren pengeluaran Ini membantu menilai daya beli dan potensi ekonomi konsumen di wilayah itu. 
  • Karakteristik Pesaing dan Tingkat Kejenuhan Analisis ini melihat berapa banyak pesaing dan seberapa padat persaingan di area tersebut. Misalnya: Jumlah pesaing, Ukuran toko, Penjualan per kaki persegi, Penjualan rata-rata per toko atau per karyawan Hasilnya menunjukkan apakah pasar sudah jenuh (terlalu banyak pesaing) atau masih ada peluang untuk masuk.
  • Kesimpulan Akhir Dari semua data tadi, perusahaan bisa memutuskan: Apakah area tersebut layak dimasuki (menyetujui area),Atau justru dihindari (area penolakan).

Karakteristik terpilih di New York menurut sensus wilayah 


  1. Lihat Baris “Nomor Tract” di Paling Atas Bagian paling atas menunjukkan kode wilayah sensus (Tract Number), yaitu 4164, 4165, 4166, 4167.01, 4167.02, dan 4168. Masing-masing kode mewakili area geografis kecil di Long Beach, New York.
  2.  Perhatikan Bagian “Total Populasi” Menunjukkan jumlah penduduk di setiap area pada tahun 2000 dan 2010. Dari sini bisa dilihat pertumbuhan atau penurunan populasi. Misalnya: Area 4164: dari 7.406 menjadi 5.471 (populasi turun), Area 4168: dari 8.656 menjadi 4.968 (juga turun).
  3. Lihat Bagian “Usia Rata-Rata dan Ukuran Rumah Tangga” Usia rata-rata menunjukkan seberapa muda atau tuanya populasi di area tersebut. Ukuran rata-rata rumah tangga menunjukkan jumlah rata-rata orang dalam satu rumah. Misalnya: Area 4166 memiliki usia rata-rata 44,6 tahun (cukup dewasa), Area 4167.01 lebih muda (41,6 tahun).
  4. Lihat Bagian “Pendidikan” Menunjukkan persentase penduduk berusia 25 tahun ke atas yang lulus perguruan tinggi. Misalnya: Area 4166: 60,8% lulusan perguruan tinggi → berarti penduduknya relatif berpendidikan tinggi. Area 4165: hanya 26,7% → pendidikannya lebih rendah.
  5. Perhatikan Bagian “Pendapatan” Menunjukkan pendapatan rata-rata rumah tangga per tahun. Contoh: Area 4167.01: pendapatan $96.713, Area 4165: hanya $84.208.
  6. Lihat Bagian “Pekerjaan yang Dipilih” Menunjukkan persentase penduduk yang bekerja sebagai manajer, profesional, atau pekerjaan terkait. Contoh: Area 4166: 56,3% (cukup tinggi), Area 4164: 39,4% (lebih rendah).
Kesimpulan dari Tabel Dari data tabel 9-2 ini bisa disimpulkan bahwa:
Setiap area memiliki karakter demografis dan ekonomi yang berbeda. Area dengan pendapatan lebih tinggi, tingkat pendidikan tinggi, dan pekerjaan profesional lebih banyak biasanya lebih potensial untuk bisnis ritel seperti toko buku. Namun, area dengan populasi yang menurun atau pendapatan rendah mungkin kurang menguntungkan.

Distrik Bisnis 
Distrik bisnis adalah pusat komersial dan ekonomi utama suatu daerah yang menjadi lokasi berbagai kegiatan bisnis. 

Perhatikan huruf A–E di peta sebagai tanda lokasi jenis distrik bisnis. 
Amati posisi dan sebarannya: 
A (CBD) di tengah → paling ramai dan padat. 
B di pinggiran → melayani masyarakat daerah tertentu. 
C di dekat permukiman → melayani kebutuhan lokal. 
D mengikuti jalan → bisnis berjejer di jalur ramai. 
E tersebar jauh → bisnis mandiri/terpencil. 
Tujuan gambar ini adalah membantu kita memahami perbedaan lokasi dan karakter bisnis di berbagai wilayah kota. 
Bandingkan fungsinya: semakin jauh dari pusat (A), semakin kecil skala dan cakupan pasarnya.

A – Distrik Bisnis Pusat (Central Business District / CBD) : Terletak di pusat kota , Di sinilah terdapat konsentrasi bisnis paling tinggi, seperti toko besar, bank, kantor, dan restoran.Aktivitas ekonomi di sini paling sibuk karena banyaknya pelanggan, karyawan, dan transportasi umum.  
B – Distrik Bisnis Sekunder : Terletak di luar pusat kota, biasanya di area pemukiman besar.Berfungsi untuk melayani kebutuhan masyarakat sekitar, misalnya pasar, minimarket, apotek, atau toko pakaian lokal.Aktivitasnya tidak sepadat CBD, tapi tetap ramai karena melayani penduduk sekitar.
C – Distrik Bisnis Lingkungan : Biasanya terletak lebih dekat lagi ke daerah perumahan.Terdiri dari bisnis kecil seperti warung, toko kelontong, salon, atau laundry. Suasananya lebih santai, tidak seramai pusat kota, tapi mudah dijangkau oleh warga setempat.
D – String (Jalur Bisnis) : Merupakan deretan toko atau bisnis yang berjejer sepanjang jalan utama.Biasanya terbentuk secara alami karena jalan tersebut ramai dilalui kendaraan dan orang.
E – Lokasi Terisolasi: Adalah bisnis yang berdiri sendiri, tidak berdekatan dengan area bisnis lain. Biasanya berupa usaha yang tidak membutuhkan lalu lintas ramai, misalnya bengkel khusus, dealer mobil besar, atau restoran tujuan khusus. Letaknya bisa di luar kota atau di pinggir jalan besar. 


Lingkungan Pusat Pembelanjaan 
Merupakan tempat belanja yang berukuran sedang, berfokus pada kebutuhan sehari-hari penduduk sekitar, dan mudah dijangkau dari rumah mereka. 

terdiri dari : 
Supermarket utama sebagai toko besar utamanya, Dikelilingi oleh toko-toko kecil seperti apotek, toko roti, salon, atau restoran cepat saji.


Gambar 10–6 menggambarkan suasana dan konsep pusat perbelanjaan lingkungan, yaitu tempat belanja berskala kecil hingga menengah yang: 
 a. Fokus pada kebutuhan sehari-hari 
 b. Dekat dengan tempat tinggal warga 
 c. Didesain agar nyaman, ramah keluarga, dan mudah dijangkau. Singkatnya, ini adalah contoh pusat belanja yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat lokal. Contohnya seperti SuperIndo 


Lokasi dan Evaluasi Lokasi 

Gambar 10–7 membantu pengusaha atau perencana toko untuk mengevaluasi lokasi usaha secara sistematis. Artinya, sebelum membuka toko, kamu perlu menilai beberapa faktor penting agar tahu apakah tempat itu strategis, mudah diakses, dan menguntungkan.
  • Bagian Pertama: Lalu Lintas Pejalan Kaki Kategori ini menilai seberapa ramai orang berjalan kaki di sekitar lokasi toko. Faktor yang dilihat antara lain: Jumlah orang yang lewat, Tipe orang (apakah sesuai dengan target pasar),Waktu-waktu ramai (jam sibuk dan sepi), Tujuan mereka (apakah lewat saja atau benar-benar belanja). Hal ini penting karena semakin ramai pejalan kaki yang sesuai target pembeli, maka peluang penjualan semakin besar.
  • Bagian Kedua: Lalu Lintas Kendaraan Bagian ini menilai seberapa banyak kendaraan yang melewati lokasi toko. Aspek yang diperhatikan: Jumlah kendaraan, Jenis kendaraan (mobil pribadi, motor, truk, dll), Arah dan kecepatan lalu lintas. Tujuannya untuk melihat apakah lokasi mudah diakses dan terlihat oleh orang yang berkendara, serta apakah aman untuk keluar-masuk area toko.
  • Bagian Ketiga: Fasilitas Parkir Bagian ini menilai ketersediaan dan kenyamanan tempat parkir. Hal yang diperhatikan: Jumlah tempat parkir, Kualitas dan luas parkir, Kemudahan keluar-masuk kendaraan,Tempat parkir untuk karyawan. Parkir yang luas dan mudah diakses menjadi daya tarik penting bagi pelanggan, terutama bagi yang datang dengan mobil.
  • Bagian Keempat: Transportasi Menilai kemudahan akses transportasi umum ke lokasi toko: Apakah dekat halte bus, stasiun, atau angkutan umum lain dan Seberapa mudah pelanggan datang dan pergi tanpa kendaraan pribadi. Lokasi yang mudah dijangkau transportasi umum biasanya lebih ramai dikunjungi.
  • Bagian Kelima: Komposisi Toko Menilai toko-toko lain di sekitar lokasi. Aspek yang dinilai: Jumlah dan jenis toko di sekitar, Apakah toko lain menjadi pesaing atau justru pelengkap, Adanya daya tarik bersama (affinity) yang membuat pelanggan betah. Misalnya, membuka toko pakaian di area yang juga punya toko sepatu dan kafe bisa menarik lebih banyak pengunjung karena saling melengkapi.
  • Bagian Keenam: Situs Khusus (Kondisi Lokasi) Menilai kondisi fisik dan kepemilikan lokasi: Kepemilikan tanah atau sewa,Ukuran dan bentuk bangunan, Biaya operasional dan pemeliharaan, Kondisi jalan dan bangunan sekitar, Pajak, aturan pemerintah, dan izin usaha. Bagian ini membantu menghitung biaya jangka panjang dan kemudahan legalitas usaha.
  • Bagian Ketujuh: Penyesuaian Khusus Faktor tambahan yang unik untuk lokasi tertentu, misalnya: Rencana pembangunan di area sekitar, Potensi pertumbuhan lingkungan,Risiko tertentu (banjir, macet, dll). Bagian ini bersifat fleksibel, tergantung jenis usaha dan lokasi yang dinilai. 

Setelah semua faktor dinilai dari 1 sampai 10, hasilnya bisa dijumlahkan atau dibandingkan dengan lokasi lain. A. Lokasi dengan total nilai paling kecil adalah lokasi terbaik. B. Lokasi dengan nilai besar menunjukkan banyak kelemahan yang harus diperbaiki. Singkatnya, gambar ini adalah panduan praktis untuk menilai dan membandingkan lokasi usaha secara objektif sebelum memutuskan tempat membuka toko. 


Tata Letak Produk 
  1. memudahkan pelanggan berbelanja karena produk dikelompokkan secara logis (misalnya makanan ringan berdekatan dengan minuman) 
  2. meningkatkan pembelian spontan, karena produk promosi ditempatkan di area dengan lalu lintas tinggi. 

Gambar ini menunjukkan tata letak (layout) sebuah supermarket atau toko kelontong besar yang disebut “Kota Makanan” (Food City). Layout ini menggambarkan bagaimana barang-barang diatur berdasarkan kategori produk dan kebiasaan belanja pelanggan agar memudahkan konsumen menemukan produk dan sekaligus meningkatkan penjualan toko.

Gambar ini terbagi menjadi beberapa zona warna dan bagian rak (aisle), yang masing-masing menunjukkan area untuk kategori produk tertentu:
  • Bagian atas (warna cokelat dan merah muda): Berisi produk yang cepat menarik perhatian seperti permenn, tortilla, roti, alat tulis, sereal, dan makanan ringan. Area ini biasanya disebut “dinding nilai” karena berisi barang-barang dengan harga menarik atau promosi.
  • Bagian tengah, Didominasi oleh barang kebutuhan sehari-hari seperti: Makanan kaleng, saus, bumbu, pasta, sup, dan ramen. Produk rumah tangga seperti tisu, sabun, popok, dan pembersih.Tata letak di tengah ini dirancang agar pelanggan melewati banyak rak dan melihat lebih banyak produk saat berbelanja.
  • Bagian bawah (warna biru dan hijau), Berisi minuman seperti air, soda, jus, kopi, teh, dan minuman energi.Area ini biasanya ditempatkan di bagian akhir perjalanan pelanggan di dalam toko agar mereka membeli tambahan barang sebelum ke kasir.
  • Sisi kiri dan kanan (zona samping): Kiri: bagian untuk produk segar seperti buah, sayur, dan daging — area ini menarik perhatian dengan warna dan aroma segar. Kanan: area tortilla, roti, dan makanan siap saji, yang umum di komunitas Latin dan Hispanik.
  • Bagian depan (dekat kasir): Dikenal sebagai impulse area, yaitu area untuk pembelian spontan seperti permen, majalah, atau minuman dingin — agar pembeli tergoda membeli saat menunggu giliran di kasir.
Kesimpulan
Gambar ini adalah contoh bagaimana supermarket merancang tata ruang toko agar efisien, menarik, dan sesuai kebutuhan pelanggan lokal. Food City, sebagai contoh nyata, menata tokonya agar pembeli — terutama dari komunitas Hispanik — merasa nyaman, menemukan produk yang familiar, dan akhirnya berbelanja lebih banyak.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MEMBANGUN dan MEMPERTAHANKAN HUBUNGAN dalam BISNIS RITEL

PENGELOLAAN BARANG DAGANGAN DALAM BISNIS RITEL